LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNIK PEMBIAKAN VEGETATIF DAN MANAJEMEN NURSERI
OLEH
GILANG SETIAWAN
NPM. E1J012031
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2014
ACARA 1
PEMELIHARAAN KOPI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada tanaman kopi diperlukan pemeliharaan agar terbebas dari hama dan penyakit, Jenis hama utama yang menyerang tanaman kopi. Pada fase pertumbuhan vegetatif hama yang menyerang yaitu penggerek cabang, kutu putih (kutu dompolan), kutu hijau, penggerek batang merah dan nematoda. Penggerek cabang menyerang tanaman sejak di pembibitan sampai tanaman dewasa. Bagian tanaman yang diserang (digerek) yaitu bagian batang dan cabang yang dekat dengan permukaan tanah. Gejala serangan yang timbul yaitu daun pada batang/cabang yang terserang layu dan pada serangan parah mengakibatkan kematian. Cara pengendalian hama ini dilakukan dengan memotong cabang-cabang yang terserang, sedangkan pencegahan dapat dilakukan dengan meningkatkan toleransi tanaman melalui pemupukan berimbang, menjaga pertanaman tidak terlalu lembab dan menghilangkan tanaman inang lainnya.
Dan juga penyakit-penyakit penting pada tanaman kopi antara lain penyakit karat daun, penyakit busuk batang dan cabang, penyakit jamur upas dan penyakit bercak daun. Penyakit karat daun menyerang tanaman kopi terutama dari jenis Arabika yang ditanam pada ketinggian di bawah 1.000 m dpl. Penyakit ini terutama menyerang daun dengan gejala daun bercak kuning muda dengan garis tengah 2 – 4 mm kemudian meluas, bentuknya tidak teratur dan warnanya semakin tua. Akhirnya warna daun menjadi kecoklatan atau hitam seperti karat. Pengendalian penyakit ini antara lain dengan menanam varietas yang resisten, dengan menggunakan fungisida dan peningkatan daya tahan tanaman melalui pemeliharaan yang intensif.
1.2 Tujuan Praktikum
Untuk memelihara tanaman kopi yang masih tergolong tanaman belum menghasilkan
1.3 Manfaat praktikum
Setelah melakukan kegiatan praktikum ini diharapkan kami mengetahui cara penanaman kopi, pemeliharaan dan perawatannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kopi Indonesia dewasa ini dihasilkan dari kebun rakyat, yakni sekitar 94% produksi nasional. Selain itu kopi merupakan salah satu komoditi andalan Sub Sektor Perkebunan karena peranannya yang cukup menonjol sebagai sumber pendapatan masyarakat, kesempatan kerja dan perolehan devisa. Bagaimanapun pendapat orang tentang minum kopi yang dikaitkan dengan masalah kesehatan, rasa dan aroma yang khas dari kopi membuat banyak orang kecanduan. Masalah yang dihadapi kopi Indonesia saat ini di pasaran Internasional adalah rendahnya mutu kopi yang umumnya dihasilkan oleh perkebunan rakyat. Untuk itu perlu perbaikan dibidang produksi berupa masa pra panen maupun pasca panen. Perlu lebih di tingkatkan penyuluhan dan bimbingan kepada petani produsen dalam menggunakan bibit, perawatan tanaman, melakukan panen dalam waktu yang tepat serta pengolahan hasil yang lebih baik sehingga menghasilkan kopi yang bermutu tinggi.
Tanaman kopi dalam permintaan kebutuhan yang diimbangi dengan harga banyak dibudidayakan oleh petani mengingat tanaman cukup potensial untuk diusahakan. Perbanyakannya banyak dilakukan dengan menggunakan biji. Selain itu, perbanyakan tanaman kopi dapat dilakukan dengan setek.
Indonesia merupakan Negara penghasil kopi terbesar keempat setelah Brasilia, kolombia, dan Vietnam. Produksi kopi Indonesia didominasi oleh jenis kopi robusta yakni 90 % dan sisanya kopi arabika 10%, permintaan kopi dunia didominasi kopi arabika , yakni 75% dan sisanya kopi robusta. Berdasarkan fenomena tersebut maka kebijakan pemerintah adalah memperbesar proporsi produksi kopi arabika (Anonim, 2014)
Upaya untuk memperbesar proporsi kopi arabika harus diikuti dengan menyediakan paket teknologi bibit unggul. Bibit unggul dapat diperoleh melalui sambungan antar kultivar kopi arabika. Koleksi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu mempunyai 10 genotipe kopi arabika yang berumur satu tahun (ditanam tahun 2006). Tanaman tersebut perlu dipelihara, terutama pemanbahan unsure hara melalui pemupukan.
Negara-negara pembeli kopi utama, sekarang ini muncul keinginan untuk mengkonsumsi produk kopi organic dan pola kebun berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Kopi organic mempunyai harga jual lebih tinggi dibandingkan kopi biasa, hal tersebut disebabkan semakin meningkatnya kesadaran lingkungan dan kesadaran kesehatan dimasyarakat (Agustin, dkk.,2002)
Pemupukan dengan pendekatan organic adalah dengan menggunakan bahan baku organic, diantaranya pupuk kandang. Pupuk kandang yang biasa digunakan untuk tanaman kopi adalah pupuk kotoran sapi. Keunggulan pupuk kandang sapi adalah mempunyai unsure hara cukup tinggi dan cepat mengalami dekomposisi. Untuk itu perlakuan dosis pupuk kandang sapi untuk tanaman kopi arabika perlu dikaji.
Perbanyakan tanaman dengan metode setek pada umumnya di gunakan untuk mengekalkan klon tanaman unggul, menanggulangi tanaman – tanaman yang tidak dapat diperbanyak dengan benih, mmudahkan dan mempercepat perbanyakan tanaman. Perkembangbiakan tanaman kopi dapat dilakukan dengan cara generatif dan vegetatif. Kopi termasuk salah satu tanaman yang bersifat “self-sterile”, sehingga tanaman kopi termasuk dalam golongan tanaman penyerbuk silang. Karenanya perkembangbiakan secara generatif sering tidak memuaskan, sebab dengan cara ini kemurnian klon sulit dipertahankan. Sehingga perkembangbiakan vegetatif merupakan alternatif yang perlu diperhatikan, salah satunya adalah dengan cara stek. Upaya untuk memperbesar proporsi kopi arabika tersebut harus diikuti dengan menyediakan paket teknologi bibit unggul. Bibit unggul dapat diperoleh melalui sambungan antar kultivar kopi arabika. Koleksi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu mempunyai 10 genotipe kopi arabika yang berumur satu tahun (ditanam tahun 2006). Tanaman tersebut perlu dipelihara, terutama pemanbahan unsure hara melalui pemupukan. Pemupukan dengan pendekatan organic adalah dengan menggunakan bahan baku organic, diantaranya yaitu pupuk kandang. Pupuk kandang yang biasa digunakan untuk tanaman kopi adalah pupuk kotoran sapi. Keunggulan pupuk kandang sapi adalah mempunyai unsure hara cukup tinggi dan cepat mengalami dekomposisi. Untuk itu perlakuan dosis pupuk kandang sapi untuk tanaman kopi arabika perlu dikaji.
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada bulan Oktober-Desember setiap hari kamis jam 10.00 wib di areal kebun percobaan fakultas pertanian universitas bengkulu.
3.2 Bahan dan alat
Bahan dan alat yang diperlukan pada praktikum ini yaitu tanaman kopi robusta, pupuk kandang dari kotoran sapi dan mistar ukur.
3.3 Cara Kerja
1. Mengukur tanaman dengan parameter :
a. Tinggi tanaman (cm)
b. Jumlah daun (lembar)
2. Melakukan penggemburan dan penyiangan dengan menggunakan sabit/cangkul terhadap tanaman yang ditanamn bersamaan pada waktu pengamatan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Praktikum
Pengamatan Ke-
|
Variabel pengamatan
| |
Tinggi tanaman (cm)
|
Jumlah daun (lembar)
| |
1
|
55
|
65
|
2
|
56,5
|
65
|
3
|
56,5
|
65
|
4
|
57
|
64
|
5
|
57,5
|
62
|
4.2 Pembahasan
Dari hasil pengamatan dan perhitungan data yang dilakukan, terlihat pengaruh terhadap pertambahan tinggi tanaman yang sangat minim. Tanaman seperti tidak meninggi walaupun telah diberi pemupukan. Sebenarnya pemupukan akan berpengaruh terhadap pertambahan tinggi tanaman kopi secara keseluruahan. Jika dilihat dari dosis, pemberiannya sudah tepat, tidak kekurangan ataupun kelebihan. Kelemahannya terdapat pada pemeliharaan tanaman yang tidak intensif, yaitu kesulitan dalam melakukan pemyiraman. Jika dilihat dengan seksama, terdapat penurunan tinggi tanaman kopi pada beberapa perlakuan. Hal ini terjadi karena terdapat tanaman yang patah, sehingga mempengaruhi tinggi tanaman selanjutnya. Tanaman kopi tidak tahan terhadap angin kencang, terlebih lagi bila musim kemarau karena angin mempertinggi penguapan air. Tetapi angin juga mempunyai peranan yang besar terhadap jenis kopi yang bersifat self steril. Pada umumnya tanaman kopi kurang menyukai sinar matahari secara langsung dalam jumlah yang banyak, tetapi menghendaki sinar matahari yang teratur.
Pada variabel jumlah daun, hasil yang tidak konsisten tampak jelas antar perlakuan pemupukan. Hal ini disebabkan karena adanya peristiwa kekeringan akibat tidak disiram secara teratur. Penyiraman yang tidak teratur terjadi karena lokasi penghambilan sumber air jauh, sedangkan medan areal penanaman kopi sangat sulit untuk dijangkau dengan membawa air untuk menyiram pertanaman. Oleh sebab itu kami sebagai praktikan, demi kelancaran jalannya acara praktikum sebaiknya Laboratorium menyediakan peralatan penyiraman dan lokasi sumber air yang layak dan terjangkau. Dengan adanya kekeringan, tanaman kopi mengalami penguapan yang begitu besar, padahal sedang menghadapi musim kemarau. Oleh sebab itu tanaman memilih untuk menggugurkan daun yang menyebabkan penurunan jumlah daun dari minggu ke minggu.
Hasil pembahasan terhadap variabel di atas praktikan sajikan dalam bentuk grafik seperti di bawah ini :
Kurva Tinggi tanaman dan jumlah daun
BAB V
KESIMPULAN
Pemupukan tanaman kopi diperlukan untuk menciptakan peluang tingginya tingkat pemanenan pertama dan menjaga stabilitas produk panen disamping meningkatkan resistensi dan toleransi tanaman kopi terhadap cekaman lingkungan.Pemupukan dapat meningkatkan tinggi tanaman kopi dan juga jumlah daun.
Pengairan atau penyiraman yang tidak teratur dapat menyebabkan perlakuan pemupukan menjadi tidak berfungsi, karena tidak adanya pelarut hara yang dapat diserap tanaman. Kekeringan menyebabkan stagnasi pertumbuhan dengan dibuktikan oleh meranggasnya daun untuk mengurangi tingkat penguapan pada daun tanaman kopi.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2014. Teknik Pembukaan Lahan Tanpa Bakar. http://ditjenbun. deptan.go.id/ perlinbun/linbun/index2 .php?option=com_content&do_pdf=1&id=157. Donwlod 29 November 2014.
Danarti. 2007. Budidaya kopi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Prasetyo, dkk. 2014. Penuntun praktikum produksi tanaman industri. Laboratorium Agronomi UNIB, Bengkulu.
Prasetyo. 2008. Hand-Out Materi Kuliah Budidaya Tanaman Tahunan. Faperta Unib. Bengkulu.
Sofyan, A. 2008. Pembukaan areal Perkebunan. http://pla. deptan.go. id/pdf/ 05arealbun2008. pdf. Don
ACARA 2
PENGISIAN POLIBAG DAN PEMBUATAN MEDIA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Media tanam adalah langkah awal dalam melakukan budidaya pertanian. Pembuatan memdia tanaman akan menentukan banyaknya kandungan haraa dan nutrisi bagi tanaman. Media tanam akan menentukan baik buruknya pertumbuhan tanaman yang pada akhirnya mempengaruhi hasil produksi. Jenis-jenis media tanam sangat banyak dan beragam. Apalagi dengan berkembangnya berbagai metode bercocok tanam, seperti hidroponik dan aeroponik.
Setiap jenis tanaman membutuhkan sifat dan karakteristik media tanam yang berbeda. Misalnya, tanaman buah membutuhkan karakter media tanam yang berbeda dengan tanaman sayuran. Tanaman buah memerlukan media tanam yang solid agar bisa menopang pertumbuhan tanaman yang relatif lebih besar, sementara jenis tanaman sayuran daun lebih memerlukan media tanam yang gembur dan mudah ditembus akar. Lewat media tanam tumbuh-tumbuhan mendapatkan sebagian besar nutrisinya. Untuk budidaya tanaman dalam wadah pot atau polybag, media tanam dibuat sebagai pengganti tanah. Oleh karena itu, harus bisa menggantikan fungsi tanah bagi tanaman.
Media tanam mampu menyediakan ruang tumbuh bagi akar tanaman, sekaligus juga sanggup menopang tanaman. Artinya, media tanam harus gembur sehingga akar tanaman bisa tumbuh baik dan sempurna. Apabila media terlalu gembur, pertumbuhan akar akan leluasa namun tanaman akan terlalu mudah tercerabut. Sebaliknya apabila terlalu padat, akar akan kesulitan untuk tumbuh.
1.2 Tujuan Praktikum
· Mampu mengisi polibag dengan media tanah dengan benar
· Membuat media dengan benar.
· Menyusun polibag dengan benar.
1.3 Manfaat praktikum
Dengan terlaksananya praktikum ini maka mahasiswa dapat memperoleh manfaatnya seperti mampu mengisi polibag dengan media tanah, membuat media dan menyusun polibag dengan benar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Media tanam memegang peranan penting bagi pertumbuhan dan kesehatan tanaman sirih merah. Salah satu syarat media tanam yang baik adalah porositas yaitu kemampuan media dalam menyerap air dan steril. Tingkat porositas tanaman di setiap daerah berbeda-beda, di daerah dataran rendah yang berudara panas, tingkat penguapannya tinggi, media harus mampu menahan air sehingga tidak mudah kering. Media harus terbebas dari organisme yang dapat menyebabkan penyakit, seperti bakteri, spora, jamur dan telur siput. Media tumbuh merupakan tempat berdiri tegaknya tanaman, akar-akar tanaman dapat melekat erat sehingga memperkokoh tanaman. Selain itu, media tumbuh juga berperan untuk menyimpan air dan hara, serta menjaga kelembabannya. Persyaratan media tumbuh yang baik adalah :
a. Mampu mengikat dan menyimpan air dan hara dengan baik.
b. Memiliki aerasi dan drainase yang baik.
c. Tidak menjadi sumber penyakit.
d. Tahan lama.
e. Mudah diperoleh. (Purwanto 2006).
Bahan organik yang dapat digunakan sebagai media tanam diantaranya adalah :
1. Tanah
Tanah adalah suatu benda alam yang menempati lapisan kulit bumi yang teratas, yang terdiri atas butir tanah, air, udara, sisa tumbuh-tumbuhan dan hewan, yang merupakan tempat tumbuh tanaman. Sebagai tempat tumbuh tanaman, peranan tanah adalah: sebagai tempat tegaknya tanaman, tempat menyediakan unsur-unsur makanan, air bagi tanaman, dan tempat menyediakan udara bagi pernafasan akar.
2. Serbuk sabut kelapa.
Serbuk sabut kelapa berasal dari sabut kelapa yang sudah dipisahkan dari seratnya, dan telah direbus untuk menghilangkan zat tanin (zat yang dapat mematikan tanaman). Proses perebusan berarti juga sterilisasi untuk menghilangkan benih-benih penyakit yang mungkin ada di dalamnya. Kelebihan serbuk sabut kelapa sebagai media tanam adalah memiliki kemampuan mengikat air dan menyimpan air dengan kuat, serbuk sabut kelapa mengandung unsur-unsur hara esensial, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (Na), dan Fosfor (P) serta dapat menetralkan keasaman tanah. Campuran serbuk sabut kelapa, tanah dan kompos dengan perbandingan 3:2:1 pada tanaman bunga kertas (Zinnia elegans) memiliki serabut akar yang banyak dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Campuran media tersebut mempunyai jumlah dan penyebaran pori-pori yang cukup besar sehingga ujung akar mudah untuk masuk dan memungkinkan perluasan akar. Campuran media serbuk sabut kelapa, tanah dan kompos dengan perbandingan 3:2:1 pada tanaman bunga kertas memberikan rata-rata daya berkecambah terbanyak.
3. Pakis
Karateristik yang menjadi keunggulan media batang pakis adalah sifat-sifatnya yang mudah mengikat air karena mempunyai rongga udara yang banyak serta bertekstur lunak sehingga mudah ditembus oleh akar tanaman dan membuat akar tanaman bisa berkembang dengan nyaman dan memperoleh air dengan mudah. Pakis dikenal sebagai bahan campuran media yang bisa menyimpan air dalam jumlah cukup, sekaligus drainase dan aerasinya baik. Daya tahannya sebagai bahan media juga baik, yakni tidak mudah lapuk sehingga dapat digunakan di daerah dengan curah hujan tinggi. Campuran media pakis dan pecahan genting dengan perbandingan 1:1 pada tanaman anggrek memberikan rata-rata jumlah daun, jumlah bulb dan jumlah akar lebih besar dibanding perlakuan lain. Media pakis pada tanaman Anthurium memberikan rata-rata jumlah daun lebih besar dan warna daun lebih mengkilat dibanding perlakuan lain.
4. Arang Sekam
Arang sekam berasal dari sekam padi yang disangrai sampai hitam tetapi bentuknya masih utuh dan tidak sampai menjadi abu. Proses sangrai ini, sekam menjadi arang sekaligus disterilkan, karena dengan suhu yang tinggi benih penyakit yang tersisa akan mati. Arang sekam merupakan media tanam yang porous dan memiliki kandungan karbon (C) yang tinggi sehingga membuat media tanam ini menjadi gembur. Kelemahan penggunaan arang sekam adalah mudah hancur dan harus rajin melakukan penggantian media tanam. Arang sekam disarankan sebagai bahan campuran media, tetapi digunakan sekitar 25% saja, karena dalam jumlah banyak akan mengurangi kemampuan media dalam menyerap air.
Campuran media arang sekam, tanah dan kompos dengan perbandingan 1:2:1 pada tanaman memberikan rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman, pertambahan diameter batang, dan jumlah daun yang lebih besar dibanding perlakuan lain. Arang sekam yang berwarna hitam akibat adanya proses pembakaran mempunyai daya serap terhadap panas tinggi dapat menaikkan suhu dan mempercepat perkecambahan.
5. Humus Daun Bambu
Humus daun bambu adalah hasil pelapukan bahan organik yang berasal dari daun bambu oleh jasad mikro. Humus daun bambu sangat membantu dalam proses penggemburan tanah dan memiliki kemampuan daya tukar ion yang tinggi sehingga bisa menyimpan unsur hara. Daya serap humus daun bambu cukup tinggi, 80-90% dari bobotnya sehingga media tetap lembab. Media tanam ini mudah ditumbuhi jamur, terlebih ketika terjadi perubahan suhu, kelembaban, dan aerasi yang ekstrim. Campuran media humus daun bambu, tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 3:2:1 pada bibit tanaman memberikan pertumbuhan awal persemaian yang lebih baik dibanding dengan perlakuan lain (Junaedhie 2007 ).
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis bulan oktober tahun 2014 di lapangan sebelah laboratorium agronomi dimana tempat tersebut telah disediakan bahan-bahan untuk pengisian polibag.
3.2 Bahan dan alat
Alat-alat yang digunakan antara lain : cangkul, ember, sekop kecil, gunting, pisau. Bahan-bahan yang digunakan antara lain : Air, tanah, pupuk kandang, pasir, air/sekam padi, polibag (15x20 cm, 20 x 30 cm, 30x40 cm).
3.3 Cara Kerja
· Mengambil tanah bagian atas (lebih kurang sampai ketebalan 25 cm dari permukaan)
· Mengambil pupuk kandang dan sekam padi.
· Mencampurkan tanah bagian atas tersebut dengan pupuk kandang dan sekam padi
secara merata dengan perbandingan 1: 1 : 1
· Mengambil polibag
· Memasukkan media tersebut ke dalam wadah polybag
· Menyusun media polibag pada bedeng-bedeng pembibitan.
· Menyiram media tanam sampai lembab.
· Media dalam wadah siap ditanam dengan bahan tanaman yang tersedia.
·
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Praktikum
4.2 Pembahasan
Media tanam merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam. Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan ditanam. Menentukan media tanam yang tepat dan standar untuk jenis tanaman yang berbeda habitat asalnya merupakan hal yang sulit. Hal ini dikarenakan setiap daerah memiliki kelembapan dan kecepatan angin yang berbeda. Secara umum, media tanam harus dapat menjaga kelembapan daerah sekitar akar, menyediakan cukup udara, dan dapat menahan ketersediaan unsur hara.
Media tanam secara umum di bag menjadi dua yaitu :
- Menggunakan media tanah dan
- Menggunakan media bukan tanah
2.2 Menggunakan media tanah
Tanah merupakan bahan lepas yang tersusun dari batuan yang telah melapuk dan mineral lainnya dan juga bahan organik yang telah melapuk yang menyelimuti sebagian besar permukaan bumi.
Atas dasar definisi ini maka tanah sebagai media tumbuh mempunyai empat fungsi utama, yaitu : Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran, Penyedia kebutuhan primer tanaman untuk melaksanakan aktivitas metabolismenya, baik selama pertumbuhan maupun untuk berproduksi, meliputi air, udara dan unsur-unsur hara, Penyedia kebutuhan sekunder tanaman yang berfungsi dalam menunjang aktivitasnya supaya berlangsung optimum, meliputi zat-zat aditif yang diproduksi oleh biota terutama mikroflora tanah, Habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negative karena merupakan hama-penyakit tanaman.
Fungsi-fungsi tanah yang sedemikian vitalnya dalam penyediaan bahan pangan, papan dan sandang bagi manusia (juga bagi hewan) ini membawa konsekuensi bahwa seorang ahli tanah tidak saja dituntut untuk berpengetahuan tantang tanah sebagai tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman, tetapi juga harus memahami fungsi tanah sebagai pelindung tanaman dari serangan hama-penyakit dan dampak negatif pestisida maupun limbah industri berbahaya.
Tanah menyediakan kebutuhan tanaman yaitu:
a. Penyedia air
b. Penyedia unsur hara
c. Penyedia udara
d. Tempat bertumpunya akar tanaman.
2.3 Media Tanam Bukan Tanah
Media tanam merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam. Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam. Untuk mendapatkan tanaman yang bagus, harus ditentukan media tanam yang sesuai dengan karakteristik dari tanaman itu sendiri
Kompos merupakan media tanam yang berasal dari proses fermentasi tanaman atau limbah organik, seperti jerami, sekam, daun, rumput, dan sampah kota. Kelebihan dari penggunaan kompos sebagai media tanam adalah sifatnya yang mampu mengembalikan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat-sifat tanah, baik fisik, kimiawi, maupun biologis. Selain itu, kompos juga menjadi fasilitator dalam penyerapan unsur nitrogen (N) yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Kompos yang baik untuk digunakan sebagai media tanam yaitu yang telah mengalami pelapukan secara sempurna, ditandai dengan perubahan warna dari bahan pembentuknya (hitam kecokelatan), tidak berbau, memiliki kadar air yang rendah, dan memiliki suhu ruang.
Pupuk kandang merupakan pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan disebut sebagai pupuk kandang. Kandungan unsur haranya yang lengkap seperti natrium (N), fosfor (P), dan kalium (K) membuat pupuk kandang cocok untuk dijadikan sebagai media tanam. Unsur-unsur tersebut penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu, pupuk kandang memiliki kandungan mikroorganisme yang diyakini mampu merombak bahan organik yang sulit dicerna tanaman menjadi komponen yang lebih mudah untuk diserap oleh tanaman. Pupuk kandang yang akan digunakan sebagai media tanam harus yang sudah matang dan steril. Pemilihan pupuk kandang yang sudah matang bertujuan untuk mencegah munculnya bakteri atau cendawan yang dapat merusak tanaman.
Sekam padi adalah kulit biji padi yang sudah digiling. Sekam padi yang biasa digunakan bisa berupa sekam bakar atau sekam mentah (tidak dibakar). Sekam bakar dan sekam mentah memiliki tingkat porositas yang sama. Sebagai media tanam, keduanya berperan penting dalam perbaikan struktur tanah sehingga sistem aerasi dan drainase di media tanam menjadi lebih baik.Penggunaan sekam bakar untuk media tanam tidak perlu disterilisasi lagi karena mikroba patogen telah mati selama proses pembakaran. Selain itu, sekam bakar juga memiliki kandungan karbon (C) yang tinggi sehingga membuat media tanam ini menjadi gembur, Namun, sekam bakar cenderung mudah lapuk. Sementara kelebihan sekam mentah sebagai media tanam yaitu mudah mengikat air, tidak mudah lapuk, merupakan sumber kalium (K) yang dibutuhkan tanaman, dan tidak mudah menggumpal atau memadat sehingga akar tanaman dapat tumbuh dengan sempurna. Namun, sekam padi mentah cenderung miskin akan unsur hara.
BAB V
KESIMPULAN
Media tanam sangat penting untuk pertumbuhan tanaman, dengan adanya media tanam maka kita bisa memperkirakan apa saja hal-hal yang dibutuhkan tanaman dan seberapa banyak yang digunakannya selama proses pertumbuhannya. Oleh karena itu pembuatan media tanam dalam suatu kegiatan budidaya tanaman pertanian sangatlah penting. Media tanam yang baik dan biasa digunakan oleh para petani adalah campuran antara media tanah, pupuk kandang dan sekam padi. Komposisi pada media tanam mempengaruhi pertumbuhan tanaman dengan memperhatikan faktor-faktor eksternal lainnya. Penambahan pupuk kandang akan memelihara dan memperbaiki kesuburan tanah dengan memberikan unsur-unsur atau zat dalam tanah yang dapat menyumbangkan bahan makanan pada tanaman
DAFTAR PUSTAKA
Junaedhie, K. 2007. Syarat Hidup Anthurium. http://www.toekangkeboen.com. Diakses pada tanggal, 20 Desember 2014.
Murti, T. Rugayah dan Rusdi. 2006. Pengaruh jenis media pengakaran dan pemberian zat perangsang akar pada pertumbuhan setek sirih merah (Piper crocatum Ruiz and Pav). Jurnal Budidaya Pertanian. 1(1): 4-13.
Nuruzaman. 2008. Pengaruh penggunaan media tanam terhadap pertumbuhan tanaman manggis (Garcinia mangostana L.). Jurnal Budidaya Pertanian. 1(1):14-20.
Prayugo, S. 2007. Media Tanam untuk Tanaman Hias. Penebar Swadaya. Jakarta.
Purwanto, A. W. 2006. Euphorbia Tampil Prima dan Semarak Berbunga. Kanisius. Yogyakarta.
ACARA 3
PERBANYAKAN/PERKEMBANGBIAKAN TANAMAN DENGAN CARA CANGKOKAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman merupakan salah satu organisme yang mampu melakukan pembiakan yang berguna untuk mempertahankan diri dan memperbanyak diri. Tanaman dapat melakukan pembiakan dengan cara vegetatif (tanpa perkawinan) dan dapat melakukannya derngan cara generatif yaitu melalui perkawinan. Pembiakan pada tanaman pada umumnya dapat terjadi secara alami maupun dengan bantuan manusia (terutama untuk tanaman-tanaman yang dibudidayakan dan diambil nilai ekonomi dan artistiknya). Pada pembiakan dengan cara vegetatif biasanya dan sebagian besar dilakukan oleh manusia agar diperoleh anakan yang sesuai dengan harapan.
Pencangkokan (layerage) merupakan sebagian jenis pembiakan tanaman secara vegetatif. Tujuan dari pencangkokan adalah untuk mempercepat mendapatkan keturunan yang sama dengan induknya dan mempercepat hasil yang dihasilkan oleh tanaman yang dicangkok. Sebagian besar pertumbuhan hasil cangkokan lebih cepat dikarenakan cadangan makanan yang ada pada batang yang telah dicangkok sudah mencukupi untuk melakukan fotosintesis, sehingga pertumbuhan menjadi langsung berlanjut tanpa mengalami strees atau terminal.
1.2 Tujuan Praktikum
Selesai melaksanakan kegiatan praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu : Memahami bahwa cara cangkokan adalah salah satu bagian dari perbanyakan suatu tanaman. Melakukan perbanyakan tanaman dari berbagai jenis tanaman dengan cara cangkokan. Mengerti dan mampu tentang bagaimana cara yang benar dalam mencangkok dari berbagai jenis tanaman
1.3 Manfaat praktikum
Manfaat yang diharapkan dari praktikum ini yaitu mahasiswa mampu melakukan pencangkokan pada tanaman dengan baik dan benar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Perbanyakan tanaman secara vegetatif dapat dilakukan secara konvensional dan nonkonvensional. Melalui perbanyakan ini dapat diperoleh tanaman yang seragam. Pembiakan vegetatif adalah suatu metode perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian tanaman itu sendiri (bagian-bagian vegetatif yakni akar, batang dan daun) tanpa melibatkan proses pembuahan sehingga sifat tanaman induk dapat dipertahankan dan diturunkan ke tanaman anakan Hartman dan Kester 1983 (dalam Sukendro, dkk, 2010). Teknik perbanyakan vegetative dengan cara pelukaan atau pengeratan cabang pohon induk dan dibungkus media tanam untuk merangsang terbentuknya akar (Prastowo, 2006).
Mencangkok hanya dapat dilakukan pada tanaman berkambium atau tumbuhan dikotil. Syarat batang yang baik untuk dicangkok antara lain: batang lurus, batang tidak terlalu dan tidak terlalu muda,berkayu (Setyaningtyas, 2009). Perbanyakan dengan cara mencangkok bisanya dilakukan pada tanaman buah-buahan misalnya mangga, jambu,belimbing,dan rambutan(Abdullah, 2007).
Media untuk mencangkok bisa menggunakan cocopit atau serbuk sabut kelapa ataupun cacahan sabut kelapa. Dapat pula digunakan campuran kompos/pupuk kandang dengan tanah (1:1). Waktu pelaksanaan sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan, sehingga cangkokan tidak akan kekeringan. Selain itu dengan mencangkok di awal musim hujan akan tersedia waktu untuk menanam hasil cangkokan pada musim itu juga (Prastowo, 2006).
Pembungkus cangkok sangat dianjurkan untuk memakai pembungkus plastik. Kelebihan memakai plastik yaitu relatif lebih murah dan mudah diperoleh; kedap air sehingga media tetap basah dan tak perlu disiram, pembungkus dari plastik mudah dilepas, akar-akar yang baru tumbuh dalam cangkokan tidak akan putus karena tidak melekat di plastik (Rahardja & Wahyu, 2007).
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat praktikum
Praktikum ini dilaksanakan mulai bulan oktober 2014 di rumah masing-masing praktikan.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan yaitu : berbagai jenis tanaman buah2an (jambu air, mangga, salak, jeruk, dll) dan tanaman hias (bounggenville), tanah/tanah bakar, pupuk kandang, mos, air, ZPT, sabut kelapa, plastik hitam/putih, tali rapiah, plastic label, spidol permanent .Adapun alat-alat yang dipakai adalah : gunting setek, pisau/cautter , ember, hand sprayer.
3.3 Cara Kerja
a. Tahapan mencangkok adalah sebagai berikut :
Menentukan pohon induk, Jangan yang terlalu muda atau terlalu tua, Sudah pernah berbunga (tanaman hias) dan berbuah (tanaman buah), Tumbuh kuat dan subur, tidak terserang hama penyakit. Mempunyai banyak cabang.
b. Memilih cabang/ranting.
Ukurannya tidak terlalu besar (sebesar kelinking atau pinsil), Bentuk cabang tegap dan mulus, dan berwarna coklat muda, Panjang cabang antara 20 – 30 cm, Jumlah daun cabang harus banyak, Cabang mengarah ke atas atau ke samping.
c. Menyayat dan mengupas kulit kayu
Besar kecilnya sayatan disesuaikan dengan diameter cabang/batang, Cabang kecil sayatan ± 2 cm arah vertical, cabang besar sayatan >2cm ,sepertiga cabang arah horizontal.Sayatan berada tepat di bawah kuncup daun.
d. Mengerok kambium
e. Membungkus cangkokan.
·
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Praktikum
Gambar hasil cangkokan jambu biji
4.2 Pembahsan
Tiap media yang digunakan untuk melakukan pembudidayaan tanaman dengan cara mencangkok mempunyai karakteristik yang berbeda-beda antara media satu dengan media lain. Tiap media yang digunakan mempunyai kandungan unsur hara, selain unsur hara media cangkok yang baik digunakan harus memiliki sifat diantaranya mampu menjaga kelembaban, memiliki aerasi dan drainasi yang baik, tidak memiliki salinitas yang tinggi serta bebas dari hama dan penyakit. Pembentukan akar pada cangkok tingkat keberhasilannya lebih ditentukan oleh sifat fisik media dibandingkan dengan sifat kimia yang terkandung dalam media, karena sifat fisik berpengaruh dengan ketersediaan air dan adanya kelancaran sirkulasi udara dalam media yang dibutuhkan dalam proses pembentukan akar. Media yang mempunyai beberapa sifat tersebut dapat memacu pertumbuhan akar tanaman dengan sempurna.
Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam mencangkok yaitu dalam mengerjakan pencangkokan harus dengan hati - hati terutama saat mengupas kulit batang tanaman yang akan dicangkok sebab pembuluh tapis pada tumbuhan jika rusak akan menyebabkan kegagalan pencangkokan dan jaringan disekitar bawah kulit tumbuhan sangat lemah dan rentan akan infeksi bakteri maupun virus, memilih batang tanaman yang kira - kira memiliki diameter antara 5 cm hingga 7 cm. Bentuk cabang yang baik adalah yang memiliki kulit yang tegap, mulus dan warna masih coklat muda dan belum ada kerak, agar tanaman menghasilkan akar yang baik dan sempurna. Besar cabang yang ideal adalah cabang yang masih berukuran kecil sebesar jari ataupun pensil. Hal tersebut karena dengan cabang yang kecil akan didapatkan tanaman dengan jumlah banyak dan tanaman tidak memerlukan akar yang banyak sehingga mempercepat proses pencakokan dan penyiraman tidak membutuhkan air banyak dan hanya perlu disirami sekali dalam sehari untuk menghindari pembusukan.
BAB V
KESIMPULAN
Mencangkok adalah suatu teknik perbanyakan tanaman dengan cara merangsang timbulnya perakaran pada cabang pohon sehingga dapat ditanam sebagai tanaman baru. Media serta pembalut yang digunakan dalam pencangkokkan ini juga berpengaruh pada tumbuhnya akar pada cangkokkan. Pertumbuhan akar cangkokan dapat berlangsung secara maksimum apabila kondisi media pembalut sesuai dan mendukung untuk melakukan pertumbuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M, dkk. 2007. Ipa Terpadu SMP dan MTs Jilid 3a. Jakarta : Esis.
Prastowo, N.H, dkk. 2006. Teknik Pembibitan dan Perbanyakan Vegetatif Tanaman Buah. Bogor: World Agroforestry Center (ICRAF) & Winrock Internasional.
Rahardja, P.C. dan Wahyu Wiryanta. 2007. Aneka Cara Memperbanyak Tanaman. AgroMedia Pustaka, Jakarta.
Setyaningtyas, Y. 2009. Cerdas sains Kelas 4-6 SD. Yogyakarta, Pustaka Widyatama.
Sukendro, A, dkk. 2010. Studi Pembiakan Vegetatif Intsia bijuga (Colebr.) O.K melalui Grafting. Silvikultur Tropika, 1(1):6-10
ACARA 4
PERBANYAKAN/PERKEMBANGBIAKAN BERBAGAI TANAMAN DENGAN MACAM-MACAM BENTUK STEK (CUTTING)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Untuk perkembangbiakan tanaman bisa dilakukan melalui dua cara yaitu secara generatif dan vegetatif. Perkembangbiakan generatif adalah perkembangbiakan yang berasal dari biji, dimana biji tersebut berasal dari proses penyerbukan. Perkembangbiakan vegetatif adalah perkembangbiakan yang menggunakan bagian tanaman baik daun, tunas (selain daripada biji). Pembiakan secara aseksual merupakan dasar pembiakan vegetatif, dimana terlihat kesanggupan tanaman membentuk kembali jaringan-jaringan dan bagian-bagian lain. Pada sebagian tanaman, pembiakan vegetatif merupakan proses alamiah yang sempurna atau merupakan suatu proses buatan manusia. Menyetek merupakan salah satu cara pembiakan vegetatif buatan yang memperlakukan beberapa bagian dari tanaman seperti akar, batang, daun dan tunas dengan maksud agar organ-organ tersebut membentuk akar yang selanjutnya menjadi tanaman baru yang sempurna.
Menyetek bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang sempurna dengan akar, batang dan daun dalam waktu relative singkat serta memiliki sifat yang serupa dengan induknya, serta dipergunakan untuk mengekalkan klon tanaman unggul dan juga untuk memudahkan serta mempercepat perbanyakan tanaman.
1.2 Tujuan Praktikum
Selesai melaksanakan kegiatan praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu :
· Memahami bahwa cara setek adalah salah satu bagian dari perbanyakan suatu tanaman
· Melakukan perbanyakan tanaman dari berbagai jenis tanaman dengan cara setek.
· Mengerti dan mampu tentang bagaimana cara yang benar dalam menyetek dari berbagai jenis tanaman.
1.3 Manfaat praktikum
Manfaat dari dilakukannya praktikum ini yaitu mahasiswa mampu dan mengerti melakukan perbanyakan tanaman dengan cara stek dari berbagai jenis tanaman dengan baik dan benar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman buah naga merupakan tanaman buah yang termasuk dalam kelompok tanaman kaktus atau tergolong family cactaceae yang berasal dari Meksiko, Amerika tengah dan Amerika utara.Tanaman buah naga telah tersebar ke seluruh penjuru dunia.Curah hujan yang ideal untuk buah naga adalah 60 mm/bulan atau 720 mm/tahun dan akan lebih baik jika ditanam di dataran rendah yaitu 0-350 m dpl, dengan suhu yang ideal yaitu 260C – 360C dank kelembapan 70 – 90%. Tanah untuk budidaya tanaman ini harus baik yaitu memiliki aerasi baik dengan derajad keasaman tanah yang bersifat sedikit alkalis denagn pH 6,5 – 7 (Kristanto, 2008).
Bahan tanaman dapat berasal dari stek cabang atau batang, maupun benih. Jika menggunakan stek dipilih cabang atau batang yang telah cukup tua yaitu diambil dari buah yang telah masak biasanya berwarna hitam. Stek cabang yang cukup baik pertumbuhannya adalah stek yang berdiameter 2 cm, berkayu, berwarna hijau keabu-abuan, sedangkan untuk panjang stek yang menjadi pertimbangan adalah efisiensi pemakaiannya. Stek yang lebih panjang memerlukan pemakaian cabang lebih banyak dibandingkan stek pendek, sedang yang terlalu pendek sulit untuk tumbuh. Panjang stek 25 cm sudah cukup memadai (charloq, 2008).
Pembiakan vegetatif sangat diperlukan karena bibit hasil pengembangan secara vegetatif merupakan duplikat induknya sehingga mempunyai struktur genetik yang sama Na’iem, 2000 (dalam Adinugraha, 2007). Dari satu batang bibit yang telah diketahui kualitas genetiknya dapat diperbanyak menjadi beberapa batang bibit baru yang memiliki kualitas yang seragam (Hidayat, 2010)
Reproduksi vegetative secara buatan adalah terjadinya individu baru(tanaman baru) karena tindakan manusia (Abdullah, 2007). Perbanyakan tanaman dengan stek merupakan cara pembiakan tanaman yang sederhana, cepat dan tidak memerlukan teknik tertentu (Rukmana, 2012).
Stek adalah reproduksi vegetative suatu tumbuhan dari potongan batang, daun, daham, atau ranting, yang kemudian ditanam. Penyetekan adalah suatu perlakuan atau pemotongan beberapa bagian dari tanaman seperti akar, batang, daun, dan tunas dengan maksud agar organ-organ tersebut membentuk akar yang selanjutnya menjadi tanaman baru yang sempurna dalam waktu yang relative cepat dan sifat-sifatnya serupa dengan induknya. Pembiakan dengan cara stek ini pada umumnya dipergunakan mengekalkan klon tanaman unggul dan juga untuk memudahkan serta mempercepat perbanyakan tanaman (Abdullah, 2007).
Beberapa teknik stek yang dapat digunakan adalah stek daun, stek batang, dan stek akar (Hidayat dan Sri, 2009). Peranyakan tanaman dengan cara setek merupakan perbanyakan tanaman dengan cara menanam bagian-bagian tertentu dari tanaman. Bagian tertentu itu bisa berupa pucuk tanaman, akar, atu cabang. Proses penyetekan tanaman itu sendiri cukup mudah. Kita tinggal memotong tanaman yang terpilih dengan menggunakan pisau yang tajam untuk menghasilkan potongan permukaan yang halus. Pemotongan stek bagian ujung sebaiknya berada beberapa milliliter dari mata tunas.Setek yang baik untuk ditanam harus berasal dari induk yang sehat. Mutu fisiologis setek yang rendah dapat mempengaruhi hasil panen karena tingkat kesuburan dan pertumbuhan tidak merata Rumiati et al., 1998 (dalam Melati dan Rusmin, 2008)
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat praktikum
Praktikum dilakukan pada bulan oktober dilahan percobaan laboratorium agronomi sesuai dengan jadwal praktikum masing-masing praktikan.
3.2 Bahan dan alat
Tanaman/cabang Bougenvil, lidah mertua dan cabang dari tanaman lada, cacao Rootone F, tanah, pupuk kandang sapi, ember gunting setek pancang kayu
3.3 Cara kerja
a) Pemilihan Bahan Tanam
Berbagai bahan tanam yang akan dijadikan bahan praktek dipilih dari pohon induk yang sehat, tidak ada gejala penyakit serta warnanya hijau. Memilih cabang yang berasal dari cabang orthotrop/tunas wiwilan/air/buku dari sulur panjat dan atau cabang buah/daun.
b. Penyiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan untuk setek adalah campuran tanah yang dari lapisan atas (top soil), pupuk kandang (kotoran sapi), sekam 1 : 1 : 1, atau 2 : 1 : 1 . Media tanam yang telah dicampur dimasukan ke dalam polibag/pot wadah plastik(nampan) yang telah disediakan, kemudian disiram hingga jenuh air dan dibiarkan beberapa saat.
c. Pembuatan Setek
Setek Pucuk :
· memilih cabang yang mempunyai diameter 0,5 cm, masih mudah yang mempunyai pucuk.
· Potong cabang 10 – 15 cm dengan sudut 45 º tepat di bawah tangkai daun.
· Daun2 bagian bawah dibuang dan sisakan 2 hingga 4 helai daun pada bagian pucuk (daun2nya dibuang separuh).
· Setelah dipotong setek pucuk direndam atonik 10 cc/liter selama 20 menit,atau diolesi dengan Rootone F setelah dibuat pasta pada bidang potongan setek
Setek Daun
· Memilih daun yang berwarna hijau dari tanaman hias (lidah mertua).
· Memilih daun yang telah cukup umur.
· Memberikan Rootone F, Atonik untu merangsang pertumbuhan akar.
Setek Cabang/batang
· Memotong setek dari cabang terpilih dengan panjang 15 – 30 cm,
· memotong pangkal setek dengan dudut 45 º di bawah buku dari sulur panjat ± satu cm.
· Setek kemudian direndam dalam air hingga saat tanam
· Sebelum ditanam pangkal stek pada bidang potongannya dioleskan rootone F yang telah
berbentuk pasta atau direndam atonik 10 cc/liter selama 20 menit, dan pada bidang potongan bagian atas diolesi dengan lilin/kapur.
·
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Praktikum
4.2 Pembahasan
Berdasarkan praktikum dan pengamatan yang dilakukan di lapangan, maka untuk acara penyetekan ada tiga tanaman yang di setek yaitu tanaman lada, bogenvil dan lidah mertua. Penyetekan adalah suatu perlakuan atau pemotongan beberapa bagian dari tanaman seperti akar, batang, daun, dan tunas dengan maksud agar organ-organ tersebut membentuk akar yang selanjutnya menjadi tanaman baru yang sempurna dalam waktu yang relative cepat dan sifat-sifatnya serupa dengan induknya. Pembiakan dengan cara stek ini pada umumnya dipergunakan mengekalkan klon tanaman unggul dan juga untuk memudahkan serta mempercepat perbanyakan tanaman. Pada ketiga tanaman yang di setek maka tanaman yang paling sepat tumbuh dan membentuk akar adalah tanaman lada, yang kedua yaittu tanamna lidah mertua, dan yang ketiga baru tanaman bogenvil, kemungkinan tanaman bogenvil yang di setek ini memiliki struktur batang yang keras, sehingga akar lambat terbentuk.
Pada acara setek ini di gunakan rootone F sebagai perangsang akar akar cepat tumbuh, Usaha untuk menumbuhkan setek perlu dilakukan pada lingkungan yang mempunyai cahaya baur atau terpencar (diffuse light). Kelembaban udara sebaiknya tinggi, sekitar 70-90%, Suhu mendekati suhu kamar, 25-27oC. Selain itu dalam pembentukan akar setek diperlukan juga oksigen yang cukup. Oleh karena itu media yang digunakan harus cukup gembur dan pada acara ini media yang di gunakan adalah tanah, pupuk kandang dari kotoran sapi dan sekam dengan perbandingan 1:1:1, sehingga aerasinya baik . dari ketiga tanaman yang di setek, alhamdulilah ketiganya hidup namun untuk pengamatan seperti tinggi tunas, jumlah cabang dan jumlah daun belum bisa di lakukan, karena waktu praktikum yang terbatas, dalam penuntun praktikum pengamatan variabel tersebut ketika tanaman setek berumur 6 bulan, sedangkan waktu praktikum hanya labih kurang 3 bulan.
BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan dari praktikum ini yaitu Perbanyakan tanaman dapat melaui dua cara yaitu dengan cara vegetatif dan generatif. Bagian tanaman yang dapat di stek yaitu akar, batang, dan daun. Pemberian ZPT (zat pengatur tumbuh) dalam pertumbuhan tanaman stek yaitu dapat membantu pembentukan kalus dan terjadi pembentukan akar. Pemotongan ujung mata setek yang ditancapkan yang paling efektif adalah 60º karena lebih memubahkan pertumbuhan akar. Keberhasilan dalam melakukan penyetekan dipengaruhi dari factor media dan pemotongan ujung setek. Media tanam setek sebaiknya dapat dengan mudah ditembus akar serta dapat menyediakan air, udara serta unsur hara essential yang dapat menunjang pertumbuhan akar.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M, dkk. 2007.Ipa Terpadu SMP dan MTs Jilid 3a. Jakarta:esis
Adinugraha, H. A, dkk. 2007. Pertumbuhan Stek Pucuk dari Tunas Hasil Pemangkasan Semai Jenis Eucalypus pelilita F. Muell di Persemaian. Pemuliaan Tanaman Hutan, 1(1)
Adit, R. 2012. Pembiakan Vegetatif dengan Cara Stek. http://rezer-adt.blogspot.com /2012/11/pembiakan-vegetatif-dengan-cara-stek.html. Diakses 18 Desember 2014
Charloq.2008. Pengembangan Tanaman Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.) Sebagai Sumber Bahan Bakar Alternatif. Jurnal Penelitian Rekayasa Volume 1.Palembang : Universitas Sumatra Utara.
Hidayat, S dan Sri. W. 2009. Seri Tumbuhan Obat Berpotensi Hias(2). Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Hidayat, Y. 2010. Pertumbuhan Akar Primer, Sekunder, Tersier Stek Batang Bibit Surian (Toona sinensis Roem). Wana Mukti Forestry Research, 10 (2): 1-8
Kristanto, Daniel.2008. Buah Naga Pembudidayaan Di Pot Dan Kebun. Depok : Penebar swadaya.
Melati dan D. Rusmin. 2008. Pengaruh Jenis Kemasan terhadap Mutu dan Pertumbuhan Setek Nilam Berakar (Pogostemon cablin Benth) selama Penyimpanan.Littri, 14(1) : 1-6
Rukamana, R. 2012. Bugenvil. Cetakan ke 13. Yogyakarta: Kanisius
ACARA 5
PERBANYAKAN/PERKEMBANGBIAKAN BERBAGAI TANAMAN DENGAN MACAM-MACAM BENTUK OKULASI (BUDDING)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menempel juga disebut okulasi. Cara perbanyakan tanaman dengan okulasi memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan stek dan cangkok, karena okulasi dilakukan pada tanaman dengan perakaran yang baik serta tahan terhadap serangan hama dan penyakit dipadukan dengan tanaman yang mempunyai rasa buah lezat, tetapi mempunyai perakaran yang kurang baik. Jadi hasilnya bisa menjadi lebih baik.
Untuk penyambungan, calon batang bawah dipotong berbentuk huruf v sedangkan batang atasnya dipotong menyerong kiri-kanan agar dapat diselipkan secara tepat pada batang bawah. Setelah diselipkan secara tepat, sambungan ini lalu di ikat membentuk satu tanaman utuh. Tanaman sambungan dibiarkan hingga tumbuh menyatu dan siap untuk ditanam di lapangan. Calon batang bawah juga dipotong (dikelupas/disayat kulitnya seukuran calon mata tunas) agar nantinya dapat ditempel secara tepat. Mata tunas kemudian ditempelkan secara tepat pada calon batang bawah lalu di ikat bagian atas dan bagian bawahnya sehingga air ataupun udara tidak dapat masuk. Setelah mata tunas tumbuh maka tanaman dapat dipindahkan ke lapangan. Jika terdapat percabangan pada bagian atas tanaman (diatas daerah penempelan) maka cabang tersebut dipotong sehingga yang berkembang adalah cabang atas hasil penempelan.
1.2 Tujuan Praktikum
Selesai melaksanakan kegiatan praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu :
· Memahami bahwa cara Okulasi adalah salah satu bagian dari perbanyakan suatu tanaman
· Melakukan perbanyakan tanaman dari berbagai jenis tanaman dengan cara Okulasi.
· Mengerti dan mampu tentang bagaimana cara yang benar dalam mengokulasi dari berbagai jenis tanaman.
1.3 Manfaat praktikum
Manfaat dari diadakannya praktikum ini yaitu mahasiswa dapat melakukan okulasa dengan baik dan benar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Okulasi merupakan penempelan mata tunas dari tanaman batang atas ke tanaman batang bawah yang keduanya bersifat unggul. Dengan cara ini akan terjadi penggabungan sifat-sifat baik dari dua tanaman dalam waktu yang relatif pendek dan memperlihatkan pertumbuhan yang seragam. Tujuan utama membuat bibit okulasi adalah agar produksi bisa lebih tinggi (Tim Penulis PS, 2008).
Okulasi adalah cara menghidupkan salah satu bagian dari pohon induknya, yaitu mata tunas. Mata tunas yang sudah dipisahkan dari induknya tidak akan dapat hidup tanpa alat atau bahan yang menghidupkannya. Alat atau bahan penghidup mata tunas ini disebut batang bawah (Tim Penulis PS, 2008).
Penempelan atau okulasi (budding) adalah penggabungan dua bagian tanaman yang berlainan sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh dan tumbuh sebagai satu satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada bekas luka sambungan atau tautannya. Bagian bawah (yang mempunyai perakaran) yang menerima sambungan disebut batang bawah (rootstock atau understock) atau sering disebut stock. Bagian tanaman yang ditempelkan atau disebut batang atas, entres (scion) dan merupakan potongan satu mata tunas (entres) (Prastowo, 2006).
Waktu terbaik pelaksanaan okulasi adalah pada pagi hari, antara jam 07.00-11.00 pagi. Karena saat tersebut tanaman sedang aktif berfotosintesis sehingga kambium tanaman juga dalam kondisi aktif dan optimum. Diatas jam 12 siang daun mulai layu. Tetapi ini bisa diatasi dengan menempel ditempat yang teduh, terhindar dari sinar matahari langsung (Prastowo, 2006).
Okulasi merupakan tempelan mata tunas suatu tanaman yang sudah diketahui lebih unggul kepada bibit atau batang tanaman lain yang hendak diperbaiki kualitasnya. Grafting merupakan penyambungan bagian tanaman ke tanaman jenis lain yang akan diperbaiki kualitas-nya . seperti halnya pada okulasi, kedua tanaman yang disambung sudah diketahui kelebihan atau keunggulannya (Mangoendidjojo, 2003).
Bagian bawah (yang mempunyai perakaran) yang menerima sambungan disebut batang bawah (rootstockatau understock) atau sering disebut stock. Bagian tanaman yang disambung atau ditempelkan disebut batang atas (scion). Bila scion merupakan sepotong batang atas atau cutting, proses penggabungan antara batang bawah dan batang atas tersebut disebut grafting. Bila scion hanya berupa satu mata tunas yang digabungkan dengan batang bawah secara penempelan, proses penggabungan tersebut dinamakan okulasi atau budding (Mangoendidjojo, 2003).
Grafting dan budding merupakan cara pembiakan tanaman secara vegetatif untuk membentuk populasi tanaman secara klonal, bila cara penyetekan tidak dapat dilakukan. Ada beberapa tanaman yang dapat dengan mudah dilakukan penyetekan, tetapi ada pula tanaman yang lebih mudah dibiakan dengan penyambungan atau penempelan(Mangoendidjojo, 2003).
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada bulan november 2014 lahan percobaan fakultas pertanian UNIB
3.2 Alat dan bahan
Bahan yang digunakan adalah benih mangga, benih adpokat, benih durian, bogenvil, plastik pembungkus/tali rapiah, vaselin, Polybag ukuran 30 cm x 40 cm. kertas label.Alat yang digunakan adalah pisau okulasi/cutter, batu asah, kain lap.
3.3 Cara Kerja
Teknik okulasi yang digunakan pada praktek adalah teknik okulasi segi
empat. Tahapan okulasi segi empat adalah sebagai berikut :
· Batang bawah diiris dengan bentuk segi empat atau bujur sangkar dengan panjang sisi-sisinya 1,2 cm. Dengan menggunakan sudip (ujung belakang pisau okulasi) kulit yang telah diiris tersebut dikelupaskan dengan hati-hati, kemudian irisan tersebut ditempelkan kembali agar kambium tidak mengering.
· Batang atas/mata tunas diiris segi empat sesuai dengan bentuk irisan bataang bawah tetapi ukurannya sedikit lebih kecil.
· Selanjutnya mata tunas ditempelkan pada batang bawah, pada bagian luka dioles dengan vaselin selanjutnya diikat dengan tali plastik.
· Hasil okulasi dilihat pada hari ketujuh setelah okulasi dengan membuka plastik pengikat. Okulasi jadi ditandai dengan masih tetap hijaunya mata tunas, sedangkan mata tunas yang berwarna coklat menandakan sambungan tidak berhasil/mati.
3.4 Sifat-sifat yang diamati
Dilakukan sampai akhir percobaan ( 2 bulan), yang meliputi :
Persentase okulasi jadi (%).
Panjang tunas (mm)
Jumlah daun (helai).
Diameter tunas (mm
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Praktikum
Hasil yang didapat dari praktikum okulasi ini adalah sebagai berikut:
Jenis Okulasi
|
Hidup
|
Mati
|
Keterangan
|
Okulasi hijau
|
Hidup
|
-
|
Mata entres berwarna hijau
|
4.2 Pembahasan
Pada praktikum okulasi ini, yang dilakukan praktikan adalah mengambil batang atas. Setelah didapat batang bawah yang memenuhi syarat untuk diokulasi, praktikan membuat jendela okulasi, setelah dibuat jendela okulasi yang dilakukan selanjutnya adalah mengambil mata entres dari batang atas yang telah diambil dari kebun entres. Setelah didapat mata entres, mata entres tersebut ditempelkan ke jendela okulasi yang telah dibuat. Setelah ditempelkan, maka tahap selanjutnya adalah menutup rapat bagian batang yang diokulasi tersebut dengan menggunakan plastic okulasi. Setelah ditutup rapat dengan menggunakan plastic okulasi, okulasi dibiarkan selama 2 minggu. Kemudian dilakukan pengamatan setelah 2 minggu untuk mengetahui tumbuh atau tidaknya okulasi yang dilakukan.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan didapat hasil bahwa okulasi yang dilakukan dikebun percobaan hidup. Budding atau okulasi akan menghasilkan tanaman baru yang memiliki sifat-sifat campuran dari kedua tanaman induknya. Penempelan atau okulasi (budding) adalah penggabungan dua bagian tanaman yang berlainnan sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh dan tumbuh sebagai satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan bekas luka tautannya. Berdasarkan hasil pratikum yang didapat bahwa sebelum melakukan okulasi atau penempelan terdahap tanaman kita harus memperhatikan hubungan kekeluargaan antara stock (batang bawah atau batang pokok) dan scion (bagian tanaman yang ditempelkan), aktifitas pertumbuhan stock, kecermatan menempel, temperatus dan kelembaban, kontaminasi virus, hama dan penyakit pada saat pelaksanaan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan okulasi adalah keterampilan, kebersihan dan kecepatan mengokulasi, pemilihan entres atau kayu okulasi dengan mata tunas yang masih dorman , keadaan iklim pada musim kemarau tanaman karet mengalami gugur daun, kurang baik untuk pengokulasian karena adanya gangguan visiologis.
Dalam kegiatan okulasi yang menggabungkan sifat unggul dari kedua klon dalam satu individu, maka diperlukan kompatibilitas dari kedua batang tanaman . Kompatibilitas batang atas dan batang bawah adalah kecocokan antara kedua batang yang akan dilakukan okulasi agar dapat dihasilkan individu yang harmonis sehingga diperoleh produksi dan umur ekonomis yang tinggi. Jika tidak kompatibel dikhawatirkan tanaman tersebut tidak akan pernah tumbuh dan tidak memiliki umur ekonomi yang tinggi. Batang bawah yang siap diokulasi harus memiliki daya gabung yang baik dan tahan terhadap hama penyakit batang. Bibit semaian batang bawah telah berumur 3-5 bulan. Lazimnya berumur 5 bulan yang untuk mempermudah namun dapat juga digunakan batang yang kurang dari umur tersebut, asal pertumbuhan dan batangnya sudah cukup besar. Selain itu, pemilihan batang bawah harus dilihat dari ada tidaknya daun muda yang tumbuh, dalam hal ini perlu dipilih pohon yang tidak ada daun mudanya karena dikhawatirkan hasil okulasi tidak akan tumbuh.
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum dan pengamatan yang dilakukan maka okulasi merupakan salah satu cara memperbanyak tanaman secara vegetatif. Setiap tanaman memiliki cara perbanyakan yang berbeda dengan tanaman lainnya. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan dalam melakukannya. Dalam okulasi ini faktor yang sangat mempengaruhi keberhasilan okulasi adalah kesesuaian antara batang bawah dengan batang atas, serta penyebab okulasi ini tidak berhasil adalah dengan pemberaian hormon tumbuh secara berlabihan sehingga terjadi overdosis pada tanaman
DAFTAR PUSTAKA
Mahfudin. 2000. Pengaruh Lama Penyimpanan Entres terhadap Pertumbuhan Benih Hasil Okulasi. Fakultas Pertanian Universitas Juanda, Bogor. hlm. 21.
Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar-dasar Pemuliaan Tanaman. Kanisius: Yogyakarta.
Prastowo, N., J.M. Roshetko. 2006. Teknik Pembibitan dan Perbanyakan Vegetatif Tanaman Buah. World Agroforestry Center: Bogor.
Sumarsono, Lasimin. 2002. Teknik Okulasi Bibit Durian Pada Stadia Entres dan Model Mata Tempel yang Berbeda. Jurnal Teknik Pertanian, (7) 1.
Tim Penulis PS. 2008. Panduan Lengkap Karet. Niaga Swadaya: Jakarta.
Wudianto, Rini. 2002. Membuat Setek, Cangkok, dan Okulasi. Jakarta : Penebar Swadaya
PERBANYAKAN/PERKEMBANGBIAKAN BERBAGAI TANAMAN DENGAN MACAM-MACAM BENTUK SAMBUNGAN (GRAFTING)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Cara memperbanyak tanaman banyak ragamnya, mulai dengan cara yang sederhana sampai dengan cara yang rumit, ada yang tingkat keberhasilannya tinggi, ada pula yang tingkat keberhasilannya rendah Perkembangbiakan pada setiap tanaman tidaklah sama. Ada beberapa spesies tanaman yang dapatberkembangbiak dengan cara generatif dan ada juga jenis tanaman yang berkembangbiak dengan cara vegetatif. Perkembangbiakan baik secara vegetatif sebagian besar berasal dari salah satu bagian tanaman, misalnya berasal dari batang, akar, daun, dan lain-lain, atau bisa juga disebut bibit.
Penyambungan ini termasuk salah satu metode perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan memiliki banyak keunggulan yaitu waktu yang diperlukan untuk menghasilkan individu baru cepat dan individu yang dihasilkan memiliki sifat yang sama dengan tanaman induk. Oleh karena itu metode ini adalah metode yang mampu menjawab masalah sebelumnya, karena dengan metode vegetatif ini pembiakan tanaman tidak perlu menunggu tanaman melakukan penyerbukan terlebih dahulu dan juga bisa menjamin bahwa hasil dari tanaman yang dihasilkan memiliki sifat sama dengan tanaman induk.
1.2 Tujuan Praktikum
Selesai melaksanakan kegiatan praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu :
· Memahami bahwa cara Sambungan adalah salah satu bagian dari perbanyakan suatu tanaman
· Melakukan perbanyakan tanaman dari berbagai jenis tanaman dengan cara Sambungan.
· Mengerti dan mampu tentang bagaimana cara yang benar dalam menyambung dari berbagai jenis tanaman.
1.3 Manfaat praktim
Manfaat yang diharapkan dari praktikum ini yaitu mahasiswa mampu melakukan sambung tanaman dengan baik dan benar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Menyambung merupakan usaha perbanyakan tanaman dengan cara menyambung batang bagian atas dengan batang bagian bawah (Furqonita,2007). Bagian batang atas dan batang bawah ini digunakan untuk menyatukan dua sifat yang berbeda menjadi satu. Menurut Holbrook dkk (dalam Mathius dkk, 2006) menyatakan bahwa hubungan antara batang bawah dan batang atas mempengaruhi keragaman dalam pola distribusi hara. Kemampuan hara untuk bergerak melintasi bagian penyatuan sambungan, dan regulasi transport hormon.
Teknik penyambungan batang atas dan batang bawah ini dilakukan dengan menggabungkan batang tumbuhan yang memiliki sifat unggul dengan batang tanaman yang lain. Batang tanaman lain disebut scion dan batang induk disebut stock. Kemudian setelah kedua batang disatukan, harus diikat dengan tali (Abdurahman,2008). Tetapi, tidak lupa juga untuk pemotongan tidak boleh dilakukan sembarangan harus sesuai dengan polanya. Polanya yaitu membentuk huruf V. Agar antara batang atas dan batang bawah saling berkaitan.
Kemungkinan keberhasilan dalam teknik ini lumayan besar. Karena jika dilihat pada pembuakan ini mendapatkan individu baru. Ini merupakan suatu inovasi. Karena terdapat hubungan timbal balik antara batang bawah dengan batang atas.
Sebenarnya sebelum dilakukannya penyambungan , sejumlah tindak budidaya seperti pemangkasan, pemupukan dan pengendalian gulama. Hal ini dilakukan guna memberikan kondisi lingkungan yang baik dan meningkatkan kesehatan tanaman. Kriteria keberhasilan penyambungan adalah bila entres tetap hijau dan segar selama empat minggu setelah penyambungan. Selain itu, umumnya telah membentuk tunas baru (Basri,2009)
Hal-hal yang perlu diperhatikan mulai dari pemangkasan, sebaiknya daun yang ada pada batang bawah dihilangkan semua agar tidak mengganggu pertumbuhan. Begitu pula pada batang atas sebaiknya dihilangkan. Sedangkan untuk pemupukan, sebaiknya perlu keteraturan agar tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik. Hal yang ke tiga yaitu pengendalian gulma, maka seharusnya tiap ada tanda-tanda akan muncul bibit gulma sebaiknya dicabuti agar tidak ada persaingan dengan tanman yang baru.
Selain hal tersebut, perlu juga diperhatikan penempatan setelah ditanam. Menurut Pranowo dan Saefudin (dalam Saefudin,2009) bahwa bibit hasil penyambungan harus ditempatkan dibawah saung paranet atau rumah kaca. Hal ini memberikan presentase keberhasilan paling tinggi, masing-masing 78% dan 81% dibandingkan pada tempat terbuka yang hanya 52%. Oleh karena itu, pada perkembangbiakan vegetatif sambung ini perlu diperhatikan hal-hal tersebut. Agar dicapai hasil produksi yang optimum.
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat praktikum
Praktikum ini dilakukan pada bulan November tahub 2014 di lahan percobaan fakultas pertanian UNIB
3.2 Alat dan bahaun
Bahan yang digunakan adalah : Tanaman boungenvil, durian, mangga,plastik pembungkus/tali rapiah, vaselin, Polybag ukuran 30 cm x 40 cm. kertas label. Alat yang digunakan adalah pisau okulasi/cutter, batu asah, kain lap
3.3 Cara Kerja
· Pilih bahan sambungan/yang mempunyai umur hampir sama antara batang atas dan batang bawah.
· Buat potongan pada batang atas maupun batang bawah dengan bentuk sambungan baji atau baji terbalik.
· Masukan batang atas yang telah dibuat bentuk sambungan tadi ke dalam batang bawah.
· Ikat pada bagian sambungan dengan menggunakan plastic dan usahakan tidak bergeser sambungan yang diikat
3.4 Sifat-sifat yang diamati
Persentase tanaman jadi
Tinggi tunas
Diameter tunas
·
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Praktikum
Pada acara ini tanaman durian yang disambung tidak ada yang hidup jadi pada praktikum ini hasil penyambungannya gagal.
4.2 Analisis hasil
Penyambungan ada dua macam yaitu Grafting dan Budding. Grafting adalah penyatuan antara batang dengan batang yang terpisah atau dengan bagian pangkal akar yang terpisah untuk tumbuh bersama-sama membentuk satu individu baru. Sedangkan budding adalah bentuk grafting yang khas (okulasi) karena hanya satu tunas digunakan sebagai batang atas dan disisipkan di bawah kulit dari batang bawah. Mekanisme sambungan pada penyambungan diawali dengan terbentuknya lapisan nekrotik pada proses pertautan serta pemulihan luka oleh sel meristematik. Lalu kalus yang dihasilkan oleh sel parenkim yang saling menyatu dan membaur. Pada akhirnya terbentuk jaringan/pembuluh dari kambium sehingga proses translokasi dapat berlangsung. Agar proses pertautan tersebut dapat berlanjut, sel atau jaringan meristem antara daerah potongan harus terjadi kontak sehingga translokasi dapat terjadi dengan sempurna. Dalam penyambungan ada berbagai metode dan teknik berbeda dan setip teknik memiliki keistimewaan tersendiri. Sehingga memiliki tingkat keberhasilan mekanisme penyambungan yang berbeda.
Pada saat penyambungan cadangan makanan pada batang atas di pergunakan untuk pertumbuhan, sedangkan suply makanan dari batang bawah tidak bisa diteruskan ke batang atas. Keberhasilan teknik penyambungan sangat dipengaruhi oleh kompatibilitas antara dua jenis tanaman yang disambung. Pada umunya semakin dekat family antar dua tanaman yang disambung maka kecepatan pertumbuhan batang atas serta pertautan dan presentasi keberhasilan lebih tinggi. Pertautan akan ditentukan oleh proses pembelahan sel pada bagian yang akan bertautan. Dalam penyambungan, tanaman yang akan disambungkan, harus diketahui sifat batang bawah dan batang atas. Batang bawah berasal dari tanaman yang mempunyai sifat-sifat perakaran yang baik, anatara lain: tahan terhadap serangan hama dan penyakit, tahan terhadap sifat-sifat tanah serta keadaan air tanah tertentu yang buruk, dan sebagainya. Sedang batang atas diambil dari tanaman yang mempunyai sifat-sifat hasil dan produktivitas yang diinginkan.
Faktor teknis yang harus diperhatikan pada saat penyambungan tanaman diantaranya adalah, cara penyambungan antara batang atas dan bawah harus tepat, penggunaan pisau okulasi harus benar dan steril agar tidak ada bakteri yang masuk pada saat melakukan pembelahan batang ini bertujuan agar tidak terjadi pembusukan akibat bakteri parasit tanaman, menutupi sambungan harus benar-benar baik agar air dan bakteri tidak dapat masuk, dan suhu karena suhu yang tidak menentu dapat menjadi kegagalan penyambungan.Selain itu penyambungan juga dipengaruhi oleh faktor sumber daya manusia, lingkungan, temperature, kelembapan, dan cahaya. Keberhasilan teknik penyambungan sangat dipengaruhi oleh kompatibilitas antara dua jenis tanaman yang disambung. Pada penyambungan (grafting) tanaman adenium mengalami kegagalan penyambungan sehingga tidak tumbuh tunas baru, tidak adanya pertumbuhan ini kemungkinan di sebabakan beberapa faktor. Diantaranya disebabkan pada penyambungan antara batang bawah dan batang atas kurang sempurna masih ada celah sehingga supplai makanan dari batang bawah tidak bisa tersupplai dengan baik ke batang atas. Faktor yang lain kegagalan penyambungan dapat dikarenakan alat yang di gunakan untuk pemotongan tidak steril.
Pada penyambungan dilakukan penutupan dengan plastik dengan tujuan agar bagian yang disambung tidak terkena cahaya matahari langsung sehingga dapat mengurangi transpirasi sehinggatidak terjadi pembusukan pada batang dan Kalus yang berperan dalam penyambungan tidak rusak akibat pembusukan yang disebabkan oleh air yang masuk kedalam baik melalui embun meupun hujan. Selain itu penutupan pada batang yang disambung juga dapat melindungi sambungan dari faktor luar misal angin dan guncangan yang dapat mengakibatkan kegagalan pada proses penyambungan.
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum dan pengamatan yang dilakukan maka sambungan merupakan salah satu cara memperbanyak tanaman secara vegetatif. Setiap tanaman memiliki cara perbanyakan yang berbeda dengan tanaman lainnya. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan dalam melakukannya. Dalam sambungan ini faktor yang sangat mempengaruhi keberhasilan sambungan adalah kesesuaian antara batang bawah dengan batang atas, serta pengaruh faktor lingkungan seperti iklim, suhu dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Deden. 2008. Biologi Kelompok Pertanian dan Kesehatan. Bandung: Grafindo Media Pratama
Basri, Zainuddin. 2009. Kajian Metode Perbanyakan Klonal pada Tanaman Kakao. Media Litbang Sulteng, 2(1): 7-14
Furqonita, Deswaty. 2007. Seri IPA Biologi VIII. Surabaya : Yudhistira.
Mathius,et.al. 2006. Teknik Sambung In Vitro Kina Chincona Succirubira dengan C. ledgeriana . Menara Perkebunan, 74(2): 63-75
Saefudin. 2009. Kesiapan Teknologi Sambung Pucuk dalam Penyediaan Bahan Tanaman jambu Mete. Litbang Pertanian,28(4): 149-155
Warni. 2010. Tehnik Grafting atau Sambung. http://unggulcomputindo.wordpress.com/my-adenium/tehnik-grafting-atau-sambung/. Diakses 14 Desember 2014
ACARA 9
MODIFIKASI MIKROKLIMAT DAN TEKNIK APLIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH UNTUK MEMACU PEMBIAKAN VEGETATIF TANAMAN DALAM UNIT SKALA KECIL
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Faktor hormonal atau zat pengatur tumbuh tanaman sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, tanpa zat pengatur tumbuh, tanaman tidak akan mengalami pertumbuhan.Ada 5 kelompok zat pengatur tumbuh tanaman yaitu auksin. Giberellin, sitokinin, etilen dan ABA.
Auksin, hormon tanaman seperti indolasetat yang berfungsi untuk merangsang pembesaran sel, sintesis DNA kromosom, serta pertumbuhan aksis longitudinal tanaman., gunanya untuk merangsang pertumbuhan akar pada stekan atau cangkokan. Auksin sering digunakan untuk merangsang pertumbuhan akar dan sebagai bahan aktif sering yang digunakan dalam persiapan hortikultura komersial terutama untuk akar batang. Mereka juga dapat digunakan untuk merangsang pembungaan secara seragam, untuk mengatur pembuahan, dan untuk mencegah gugur buah.(yang termasuk Auksin IBA, NAA, 2,4-D). Auksin Golongan NAA memakai merek dagang antara lain: Rootone-F, Atonik. Sedang Auksin 2,4 D dijual dengan nama Hidrasil. Auksin alami banyak terdapat didalam cairan biji jagung muda yang masih berwarna kuning, air seni sapi, ujung koleoptil tanaman oat, umbi bawang merah dan air kelapa.
Golongan Auksin : Indole Aceti Acid (IAA), Napthalene Acetic Acid (NAA), 2,4-D, CPA dan Indole Acetic Acid (IBA). Yang paling penting dari keluarga auksin adalah indole-3-asam asetat (IAA). Ini menghasilkan efek auksin pada tanaman secara menyeluruh, dan yang paling ampuh dari auksin alami, namun molekul kimiawi IAA adalah yang paling labil di larutan air, sehingga IAA tidak digunakan secara komersial sebagai regulator pertumbuhan tanaman.
1.2 Tujuan Praktikum
Setelah melakukan praktikum ini maka mahasiswa diharapkan dapat melakukan modifikasi dan mikroklimat dan teknik aplikasi ZPT yang baik dilapangan.
1.3 Manfaat praktikum
Mahasiswa mampu mengaplikasikan ZPT pada tanaman
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pertumbuhan tanaman adalah suatu proses yang kompleks. Secara sederhana pertumbuhan tanaman dapat didefinisikan sebagai ” suatu proses vital yang menyebabkan suatu perubahan yang tetap pada setiap tanaman atau bagiannya dipandang dari sudut ukuran, bentuk, berat dan volumenya”. Pertumbuhan tanaman setidaknya menyangkut beberapa fase/proses diantaranya (Budi, 2009) :
1. Fase pembentukan sel
2. Fase perpanjangan dan pembesaran sel
3. Fase diferensiasi sel
Semua fase atau prose pertumbuhan tanaman tentu akan dipengaruhi atau ditentukan oleh faktor-faktor pertumbuhan. Beberapa faktor pertumbuahan yang cukup mempengaruhi proses pertumbuhan tanaman adalah (Budi, 2009) :
Persediaan makanan/unsur hara
Ketersediaan makanan/unsur hara dari kandungan alamiah tanah setempat atau hasil pemupukkan, sebagai salah satu bahan baku untuk pertumbuhan tanaman mutlak diperlukan .
· Ketersediaan air, Air merupakan syarat untuk dapat terjadinya semua kegiatan metabolisme (proses) tanaman.
· Cahaya matahari sangat diperlukan sebagian sumber energi untuk melakukan prose fotosintesis bagi tanaman.
· Suhu mempengaruhi kandungan air pada tubuh tanaman. Secara umum kisaran suhu untuk dapat terjadinya proses pertumbuahan antara 4§ C hingga 450 C dan suhu optimumnya antara 280 C hingga 330 C.
· Oksigen dibutuhkan untuk proses respirasi guna menghasilkan energi untuk proses pertumbuhan.
· Hormon tumbuhan adalah senyawa-senyawa dalam jumlah yang kecil yang turut mengatur proses pertumbuhan.
Auksin merupakan salah satu hormon tanaman yang dapat meregulasi banyak proses fisiologi, seperti pertumbuhan, pembelahan dan diferensiasi sel serta sintesa protein. Asam indol-3 asetat (IAA) diidentifikasi tahun 1934 sebagai senyawa alami yang menunjukkan aktivitas auksin yang mendorong pembentukan akar adventif. IAA sintetik juga telah terbukti mendorong pertumbuhan akar adventif. Pada era yang sama juga ditemukan asam indol butirat (IBA) dan asam naptalen asetat (NAA) yang mempunyai efek sama dengan IAA. Dan skarang sesungguhnya, hal itu ditunjukkan bahwa inisiasi sel untuk mmbentuk akar tergantung dari kandungan auksin (Anonim, 2008). Pembentukan inisiasi akar dalam batang terbukti tergantung pada tersedianya aiksin di dalam tanaman ditambah pemacu auksin (Rooting Co-factors) yang secara bersama-sama mengatur sintesis RNA untuk membentuk primordia akar.
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat praktikum
Praktikum dilaksanakan pada bulan november di laboratorium agronomi.
3.2 Bahan dan alat
Bahan dan alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu gelas ukur, timbangan digital, erlemenyer, handsprayer, IAA konsentrasi 5 PPM, 10 PPM, 15 ppm, dan 20 ppm serta aquadest
.
3.3 Cara Kerja
Konsentrasi IAA yang telah ditentukan kemudan dilarutkan dengan 200 Ml air lalu disemprotkan pada tanaman okulasi.
·
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Praktikum
Pada praktikum ini kami menggunakan larutan IAA konsentrasi 20 ppm dan hasilnya tanaman mati.
4.2 Pembahasan
Auksin adalah zat yang di temukan pada ujung batang, akar, pembentukan bunga yang berfungsi untuk sebagai pengatur pembesaran sel dan memicu pemanjangan sel di daerah belakang meristem ujung. Hormon auksin adalah hormon pertumbuhan pada semua jenis tanaman.nama lain dari hormon ini adalah IAA atau asam indol asetat. Letak dari hormon auksin ini terletak pada ujung batang dan ujung akar.
Inisiasi merupakan salah satu aspek dari tumbuh pada tanaman dengan menghasilkan bagian-bagian atau organ baru. Kenaikan jumlah akar merupakan salah satu dari ciri pertumbuhan atau inisiasi tersebut. Rambut akar dapat tumbuh dari akar utama (akar lateral) maupun berasal dari jaringan batang tumbuhan (akar adventif), yang dapat dipacu dengan pemberian golongan hormon auksin dalam jumlah tertentu. Daerah tergenerasi akar terletak pada absisat batang yang dipotong mengikutiperpindahan polar auksin menuju proses akhir fisiologi, yang letaknya lebih dekat dengan ujung tanaman (Mukherji and Ghosh 2002).
Hormon auksin berfungsi untuk merangsang pertumbuhan dan perpanjangan akar lateral (pada konsentrasi optimum auksin). Jika konsentrasi auksin terlalu tinggi maka akan menghambat pertumbuhan dan perpanjangan akar. Inisiasi akar dengan auksin menyebabkan pertumbuhan akar secara lateral. Konsentrasi auksin yang rendah merupakan konsentrai auksin yang efektif untuk inisiasi akar, karena auksin dngan konsentrasi yang sangat tinggi atau sangat rendah justru akan menghambat pertumbuhan akar. Fungsi auksin secara praktis dapat digunakan untuk memicu pertumbuhan dan perpanjangan akar, pembentukan buah dan bunga, dan pembentukan tunas. Tapi pada praktikum ini tanaman sebagai indikator aplikasi IAA mati dikarenakan terlalu banyak penyemprotannya yang menjadikan IAA tersebut sebagai racun bagi tanaman.
BAB V
KESIMPULAN
IAA yang tergolong pada zat pengatur tumbuh auksin dapat membantu mempercepat tumbuhnya akar, tunas dan bunga pada tanaman tapi pada konsentrasi larutan yang tidak terlalu tinggi. Karena pada pemberian IAA untuk tanaman dengan konsentrasi yang tinggi maka IAA akan menjadi racun bagi tanaman sehingga akan menghambat perkembangan sel tanaman. Dan hal ini juga dapat menyebabkan tanaman mati karena IAA yang terlalu tinggi juga menutup jaringan pengangkutan cadangan makanan pada tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Peranan Zat Pengatur Tumbuh, http://mybioma.wordpress.com/. diakses pada tanggal 15 Desember 2014-12-14
Mukherji, S and Ghosh., 2002. Plant Physiology. Tata Mc. Graw Hill Publishing Company Limite. New Delhi.
Riyadi, I. dan Tirtoboma. 2004. Pengaruh 2,4-D Terhadap Induksi Embrio Somatik Kopi Arabika. Plasma Nutfah 10(2): 82-83
Witham, F.H and Devlin, R.M., 2002. Plant Physiology Fourth Edition. CBS Publisher & Distributors. New Delhi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar